IBX5835779F171C1

Jumat, 25 Agustus 2017

Jaminan Kesejahteraan Bagi Petani Plasma RGE


Source: Inside RGE

Indonesia memiliki sebuah sistem unik yang disebut sebagai Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Pada dasarnya, program ini merupakan upaya menghadirkan kerjasama saling menguntungkan antara perusahaan besar dengan petani kecil. Beruntunglah mereka yang menjalin relasi dengan grup Royal Golden Eagle (RGE) karena banyak manfaat yang dipetik.

Dalam sistem PIR, para petani dikenal sebagai petani plasma. Mereka biasa berhimpun ke dalam Koperasi Unit Desa (KUD). Di negeri kita, pelaksanaannya sering dilakukan bersamaan dengan program transmigrasi.

Kegiatan ini memiliki tujuan positif bagi perusahaan besar dan petani kecil. Diharapkan korporasi mampu memanfaatkan keahlian teknis dan manajerial yang dimiliki untuk membantu mengembangkan perkebunan plasma bagi pemukim yang tidak memiliki tanah dan berada di lahan yang cocok untuk komoditas perkebunan.

Ada hak dan kewajiban di kedua pihak agar sistem petani plasma berjalan baik. Perusahaan besar seperti Royal Golden Eagle bertugas membangun fasilitas lengkap sesuai standar perkebunan yang baik. Selain itu, korporasi seperti RGE juga menyediakan fasilitas umum bagi masyarakat. Bersamaan dengan itu, mereka juga membimbing para petani dan melaksanakan hal terpenting, yakni membeli hasil perkebunan rakyat.

Sebaliknya, para petani plasma juga punya kewajiban yang harus dilaksanakan. Mereka harus menjalankan pengelolaan perkebunan sesuai standar operasional yang ditetapkan oleh perusahaan. Selain itu, hasil perkebunan mereka wajib dijual ke korporasi yang bertindak sebagai pembina.

Terkait hal tersebut, beruntunglah para petani plasma yang bekerjasama dengan grup RGE. Sebab, mereka mendapatkan beragam keuntungan yang akan meningkatkan kesejahteraan mereka, yang mana belum tentu bisa didapatkan dari korporasi lain.

Perlu diketahui, Royal Golden Eagle merupakan korporasi skala internasional yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Mulai dirintis pada 1973, awalnya grup ini bernama Raja Garuda Mas. Ada banyak anak perusahaan di bawah RGE, namun sebagian besar beroperasi dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam menjadi produk yang bernilai tinggi.

Kini, Royal Golden Eagle pantas disebut sebagai salah satu raksasa perusahaan sumber daya dunia. Asetnya ditaksir senilai 15 miliar dollar Amerika Serikat. Mereka pun sudah melebarkan sayap hingga beroperasi di tujuh negara berbeda. Hasilnya, RGE sanggup membuka lapangan kerja untuk sekitar 50 ribu karyawan.

Salah satu bidang yang ditekuni oleh Royal Golden Eagle adalah industri kelapa sawit. Asian Agri merupakan satu anak perusahaan yang menjalankannya. Mereka beroperasi dengan menjalankan perkebunan di Provinsi Riau dan Jambi.

Per 2016, Asian Agri mengelola lahan perkebunan kelapa sawit seluas 100 ribu hektar. Semua terbagi ke dalam 27 titik perkebunan yang dikelola secara berkelanjutan. Namun, anak usaha RGE ini juga menjalin kerjasama dengan para petani kecil lewat sistem petani plasma. Hal ini membuat Asian Agri ikut memantau pengelolaan sekitar 60 ribu hektar lahan lain yang membuka lapangan kerja bagi ribuan petani.

MENDORONG PRAKTIK BERKELANJUTAN

 Source: Asian Agri

Sebagai korporasi yang bertugas membimbing petani binaaannya, Royal Golden Eagle secara konsisten melakukan beragam pendampingan. Salah satu yang terpenting adalah mendorong para petani melaksanakan penanaman yang bertanggung jawab.
Apakah artinya? Para petani plasma diwajibkan melakukan pengelolaan lahan perkebunannya dengan prinsip-prinsip berkelanjutan. Hal ini dimaksudkan dengan memperhatikan kelestarian alam yang bermuara terhadap perlindungan iklim.

Hal ini sangat penting. Pasalnya, dalam Royal Golden Eagle, terdapat prinsip kerja yang harus dilaksanakan terkait kepada masyarakat, negara, dan iklim. Pendirinya, Sukanto Tanoto, mewajibkan semua perusahaannya di bawah grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas itu untuk memberi manfaat kepada pihak-pihak tersebut selain kepada internal bisnis sendiri.

Perlindungan terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat terkait erat dengan sistem petani plasma. Contoh nyata, para petani diharapkan untuk menjalankan praktik berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Ada berbagai macam cara yang dilakukan. Misalnya dengan mengeliminasi penggunaan pestisida berbahan kimia dalam pengelolaan hama kelapa sawit. Selain itu, petani juga dilarang membuka lahan dengan membakar hutan.

Semua itu penting bagi nasib para petani itu sendiri. Pasalnya, Royal Golden Eagle tidak membeli hasil kelapa sawitnya jika tidak berbasis praktik ramah lingkungan. Petani harus mengantungi Sustainable Palm Oil Certification yang merupakan bukti sistem berkelanjutan.

Bagi korporasi seperti Royal Golden Eagle, Sustainable Palm Oil Certification merupakan hal krusial. Mereka tidak akan bisa menjual produk-produknya ke pasar internasional jika tidak memiliki sertifikat tersebut.

Jika perusahaan tidak bisa menjualnya, para petani akan rugi sendiri. Mereka tidak bisa mendapat hasil dari kerja keras selama ini dalam mengelola dan merawat perkebunan kelapa sawit. Adakah petani yang mau seperti itu?

Akan tetapi, petani plasma binaan RGE sudah pasti tidak mengalaminya. Bimbingan rajin dilaksanakan oleh mereka terhadap para petani yang berhimpun ke dalam 71 KUD tersebut. Buahnya adalah kesejahteraaan mereka akan meningkat.

PEMBAGIAN PREMIUM SHARING

Source: Inside RGE

Selain mendapatkan jaminan keuntungan berupa hasil perkebunan yang diterima oleh perusahaan, petani plasma Royal Golden Eagle juga mendapat benefit lain. Mereka biasa mendapatkan insentif yang dikenal sebagai premium sharing.
Pada dasarnya, premium sharing merupakan insentif dari penjualan minyak sawit berkelanjutan yang diserap oleh pasar internasional yang diberikan kepada para petani. Pada 21 Desember 2016 lalu, Royal Golden Eagle telah membagikannya dalam total dana senilai lebih dari Rp2,6 miliar.

Dana tersebut dibagikan kepada para petani plasma binaan Royal Golden Eagle di Provinsi Riau dan Jambi yang telah memperoleh sertifikasi berkelanjutan bidang kelapa sawit. Nantinya semua akan dibagi ke para petani yang terdiri dari 29 ribu orang yang terhimpun dalam enam asosiasi KUD yang membawahi 71 KUD.

Seremoni pembagian premium sharing dilaksanakan di Jakarta. Dalam kesempatan itu, Direktur Asian Agri, Freddy Wijaya, hadir bersama dengan Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Enggartiasto Lukita.

“Pasar Eropa sangat terbuka terhadap minyak kelapa sawit yang dihasilkan dari perkebunan berkelanjutan. Premium sharing dari hasil penjualan 2015 ini merupakan penghargaan terhadap penanam kecil yang mempraktikkan perkebunan ramah lingkungan. Tanpa kerjasama dengan mereka selama bertahun-tahun sebelumnya, Asian Agri tidak akan mampu menjadi pemimpin industri seperti sekarang,” tandas Freddy di Inside RGE.

Saat ini, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini merupakan salah satu produsen produk olahan kelapa sawit terbesar di dunia. Pencapaian ini sangat membanggakan bagi Indonesia. Tak aneh, Enggartiasto ikut mengapresiasi premium sharing yang dibagikan oleh Asian Agri.

“Hubungan antara Asian Agri dan petani kecil akan meningkatkan kualitas minyak kelapa sawit dari Indonesia,” kata Enggartiasto. “Berkat upaya membantu para petani plasma dalam memperoleh sertifikasi internasional, kami menunjukkan komitmen serius kami dalam mengembangkan sektor agrobisnis berkelanjutan di Indonesia.”


Indonesia kini menjadi negara penghasil dan pengekspor kelapa sawit terbesar di dunia. Nilai ekspor minyak kelapa sawit dari negeri kita mencapai lebih dari 17 miliar dollar Amerika Serikat setiap tahun. Ini menciptakan devisa ekspor terbesar sehingga selain bermanfaat bagi masyarakat dan iklim, Royal Golden Eagle juga memang berguna bagi negara seperti yang digariskan sebagai bagian operasional perusahaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar