IBX5835779F171C1

Kamis, 02 Juni 2016

Menjaga Indonesia Dengan Budaya Sensor Mandiri




lembaga sensor film
Saat ini informasi mudah diakses oleh semua orang dan semua kalangan, terima kasih kepada kemajuan teknologi yang bernama internet. Dengan interet kita dapat mengakses informasi dari manapun, tidak terbatas hanya melalui personal computer ataupun laptop, gadget masa kini pun menjadi pintu informasi kita.
Hal tersebut memiliki dua dampak yang saling bertolak belakang seperti dua sisi mata uang. Kita merasa sangat terbantu dengan kemudahan akses informasi yang berguna melalu gadget kita. Akan tetapi yang masuk ke ruang pribadi kita bukan hanya informasi positif namun juga negatif, yang membuat kita terkadang kerepotan memblok informasi tersebut.

Sedikit kilas balik ke masa kecil saya, dimana informasi hanya dapat kita peroleh melalui surat kabar, radio dan televisi. Informasi yang masuk ke ruang pribadi kita dapat kita tidak sebeas saat ini. Hal tersebut karena ada orang-orang yang bertanggung jawab melakukan filterisasi atas informasi yang layak dan tidak layak.

Informasi bukan hanya berbentuk berita namun juga dalam bentuk tayangan. Salah satu lembaga yang memiliki tanggung jawab melakukan filterisasi atas informasi berbentuk tayangan adalah LSF. LSF adalah Lembaga Sensor Film , yang bertugas melakukan filter dan sensor terhadap film-film yang akan tayang di Indonesia. Sebagai catatan Lembaga Sensor Film hanya melakukan tugas sensor untuk tayangan Film yang beredar di bioskop. Sedangkan kita sering rancu dengan KPI yang bertugas melakukan filterisasi tayangan televisi. Mengenai hal tersebut sedikit akan saya jelaskan menurut saya jika ada kesalahan mohon dimaafkan.

Seperti yang kita ketahui LSF bertugas melakukan filterisasi dan sensor film yang akan tayang di Indonesia (tayang di ruang public seperti bioskop, ruang diskusi, festival, ruang akademik,dll). Sebelum film tersebut tayang, maka tugas LSF melakukan pengecekkan apakah film tersebut layak atau tidak, jika ada bagian yang tidak layak maka LSF memberitahu produsen film untuk mengubah. Setelah film selesai beredar di ruang public yang menjadi tanggung jawab LSF, film akan masuk  ke ruang public selanjutnya yang diawasi oleh KPI. Ruang public yang diawasi KPI adalah televisi, sehingga layak atau tidaknya tayangan televise menjadi tanggung jawab KPI.

Kembali ke mudahnya informasi dan tayangan masuk ruang pribadi kita, siapakah yang akan melakukan filterisasi/sensor? Jawabannya adalah kita sendiri. Dengan melakukan Budaya Sensor Mandiri.  Sudah saatnya kita tidak hanya menumpukan tanggung jawab kepada LSF dan KPI, karena menjaga generasi muda kia dari informasi dan tayangan negative adalah tanggung jawab kita. Apakah yang dapat kita lakukan?
Budaya Sensor Mandiri adalah jawaban dari pertanyaan diatas. Kita tidak perlu melakukan kegiatan seperti yang dilakukan LSF atau KPI, dengan melakukan pemotongan atau membuat blur suatu tayangan. Alat kita dalam melakukan sensor mandiri cukup sederhana, untuk tayangan TV alat kita adalah remote TV. Jika kita melihat tayangan yang tidak layak atau tidak sesuai dengan katagori usia yang menyaksikan kita tinggal menekan tombol off atau pindah channel TV. sedangkanBudaya Sensor Mandiri tidak hanya untuk tayangan TV saja, karena tayangan dan informasi negative bisa masuk melalui gadget. Sudah selayaknya orangtua menjadi lembaga sensor terhadap gadget anak-anak mereka, jangan sampai teknologi yang memudahkan komunikasi menjadi boomerang bagi masa depan mereka. Jadi dengan Budaya Sensor Mandiri, kita mulai menjaga masa depan generasi Indonesia mulai dari rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar