IBX5835779F171C1

Rabu, 30 Desember 2015

The Golden Sunrise At Sikunir



Hujan gerimis menyambut kedatangan saya di desa tertinggi di Pulau Jawa. Desa Sembungan di dataran tinggi Dieng memiliki predikat desa tertinggi se Pulau Jawa, karena terletak di ketinggian 2.306 mdpl. Dinginnya hawa desa tersebut seketika meneguhkan ketinggiannya, saya lihat pengukur suhu dimobil mencatatkan 15 derajat celcius. Kesejukan yang jarang saya peroleh di Yogyakarta.
Sikunir, Sembungan Village, Desa Sembungan, Desa Tertinggi di Jawa,Desa Tertinggi di Pulau Jawa,Puncak Sikunir, Golden Sunrise,matahari terbit,puncak sikunir
Sembungan Village/Desa Sembungan

Akhirnya saya tiba di penginapan yang menghadap ke bukit Sikunir dan Telaga Cebong pukul 3 sore. Suasana dingin setelah turun hujan menambah dramatis saat memandang danau Cebong berlatar bukit Sikunir dari kaca jendela kamar saya. Akhirnya saya merebahkan tubuh dikasur setelah menempuh perjalanan panjang dari jogja, sembari menatap bukit Sikunir yang sedikit demi sedikit mulai bersembunyi dibalik kabut.  

bukit sikunir, telaga cebong, puncak sikunir,golden sunrise, matahari terbit, puncak sikunir, sikunir dieng,sikunir telaga cebong, mendaki sikunir,melihat matahari terbit di sikunir
Bukit Sikunir

Sedikit cerita mengenai desa Sembungan dimana homestay saya berada. Selain sebagai desa tertinggi se pulau Jawa, desa ini juga memiliki hasil bumi berupa kentang berkualitas dan bernilai tinggi. Desa ini cukup jauh dari pusat Dieng, jadi ada baiknya mempersiapkan bahan makanan untuk diolah di homestay. Karena ketika saya bermalam di Sembungan hanya ada satu dua warung makan dan itu pun tidak buka, karena mata pencaharian utama penduduk Sembungan adalah petani kentang. Akhirnya setelah makan malam, saya mulai beristirahat mempersiapkan untuk pendakian kecil besok.

Ada sedikit tips jika berencana melihat Sunrise di bukit Sikunir, membawa peralatan yang diperlukan untuk naik bukit. Baju hangat, jaket, celana jeans / nyaman, sepatu (sebaiknya jangan sandal), penutup kepala, sarung tangan dan Lampu penerang (senter). Karena suhu terendah pada musim hujan sekitar 10 derajat dan bahkan suhu terendah di musim kemarau bisa dibawah 0 derajat (minus), jadi penghangat tubuh adalah sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan.

Keesokan harinya pukul 2 dini hari, jalan didepan penginapan mulai ramai dengan wisatawan yang mulai berjalan menuju Sikunir. Selepas adzan subuh, saya pun mulai menuju bukit sikunir dan tak lupa membawa perlengkapan dan juga air  minum dalam botol.
 
bukit sikunir, telaga cebong, puncak sikunir,golden sunrise, matahari terbit, puncak sikunir, sikunir dieng,sikunir telaga cebong, mendaki sikunir,melihat matahari terbit di sikunir,Pos 1 Sikunir,subuh di sikunir,gunung merapi, gunung merbabu, gunung sindoro
Mentari mulai menggeliat


Sesampainya di kaki bukit , ternyata sudah cukup banyak juga wisatawan yang akan mengejar Sunrise. Saya mulai melangkahkan kaki diterangi lampu senter. 50 sampai 100 meter pertama jalan masih berkonblok dan cukup landai, lalu 200 sampai 300 meter jalan mulai mendaki dengan tangga dari batu besar dengan pembatas dari besi. Tantangan masih berlanjut 400 sampai 500 meter pendakian semakin curam dari sebelumnya dan tanpa pembatas disisi jalan. Medan 200 hingga 500 ini biasanya pengunjung yang tidak terbiasa melakukan outdoor activity harus istirahat 2 sampai 4 kali. Saya dan istri saya harus berhenti 4 kali hingga akhirnya sampai di Pos 1. Mengingat medan menuju puncak masih menanjak dan licin, maka saya berhenti di Pos 1.
bukit sikunir, telaga cebong, puncak sikunir,golden sunrise, matahari terbit, puncak sikunir, sikunir dieng,sikunir telaga cebong, mendaki sikunir,melihat matahari terbit di sikunir
Bintang di Peralihan Masa

Disini sudah menunggu pengunjung lainnya yang tidak meneruskan ke puncak. Walaupun tidak dipuncak namun kabarnya pemandangan dari sini juga mengagumkan. Setelah mendapatkan posisi yang tepat dan nyaman, penantian dimulai. Akhirnya pukul 4.30 langit di ufuk timur mulai berubah menandakan sang mentari mulai menggeliat dari peraduannya. Sekedar informasi, ini adalah pendakian pertama saya dan menyaksikan detik-detik Sunrise adalah suatu pengalaman yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Suatu proses munculnya matahari pagi berlatarkan gunung Sindoro dan Gunung Merapi Merbabu, yang pada mulanya gelap sedikit demi sedikit cahaya keemasan mengusir sang malam. Beberapa kali saya mengambil foto mengabadikan keindahan tersebut sekaligus berlatih, minimnya cahaya saya mengatur kamera dengan setting M dan Manual Fokus dengan Aperture F 3.0 dan ISO 6.400. Untuk menikmati proses berubahnya beberapa kali saya merubah Aperture dan ISO nya karena cahaya mulai terang.
bukit sikunir, telaga cebong, puncak sikunir,golden sunrise, matahari terbit, puncak sikunir, sikunir dieng,sikunir telaga cebong, mendaki sikunir,melihat matahari terbit di sikunir
Double Beauty of Nature


Setelah kurang lebih satu jam menikmati Sunrise dari Sikunir, kami mulai menapaki jalan turun kembali ke kaki bukit. Meskipun tidak seberat pendakian namun harus tetap hati hati karena licinnya jalan dapat mengakibatkan terpeleset. Sesampainya di kaki bukit, kami mengisi perut kami dengan kentang kecil dibumbu manis pedas dan tempe kemul. Suatu pengalaman yang mengesankan.

bukit sikunir, telaga cebong, puncak sikunir,golden sunrise, matahari terbit, puncak sikunir, sikunir dieng,sikunir telaga cebong, mendaki sikunir,melihat matahari terbit di sikunir,beauty of nature, gunung sindoro,gunung merapi,gunung merbabu
Sikunir Golden Sunrise

" If You Truly Love Nature, You'll Find Beauty Everywhere" - Vincent Van Gogh

3 komentar:

  1. Aihhh bahasanyaaaa puitisnyaaaa... Yes, its my panda.. Ituuu fotoku kliatan siluet doang yak nda.. 😍 😍 😍 sharing is caring..

    BalasHapus
  2. Oke.. Sikunir ya.. Baru denger..

    BalasHapus
  3. Pemandangannya indah banget. Kapan2 pengen ke si kunir bareng keluarga ah.

    BalasHapus